Dari Sini Kita Mulai

Di antara kesyukuran kita kepada Allah-azza wajalla- adalah, banyaknya

gerakan Islam yang lahir dan tumbuh dengan cita-cita ingin

mengembalikan izzul islam walmuslimin. Hanya saja, jarang yang

betul-betul memulai usaha perbaikan ummat dari titik star yang tepat.

Yang pasti, kesalahan dalam memulai sebuah usaha yang mulia ini akan

berakibat fatal dalam perjalanan.Kalau kita mencermati sejarah (perjalanan hidup) Rasulullah, sejak awal bi’tsah sampai beliau wafat, maka kita melihat beliau, shallallahu ‘alaihi wasallam, memulai dakwahnya dari aqidah. Beliau memperkenalkan kepada masyarakat saat itu kepada siapa seharusnya mereka beribadah, untuk apa mereka hidup, bagaimana mereka berinteraksi dengan alam di sekitarnya dan kemana mereka menuju setelah meninggalkan dunia yang fana ini. Itulah aqidah!

Jika tujuan diibaratkan sebagai kiblat seorang muslim, yang menjadi orientasinya dalam beramal, maka aqidah ibarat

motor penggeraknya. Aqidah inilah yang menjalankan dan mendorongnya maju ke arah tujuan dan menghalanginya

jangan sampai berhenti, apalagi berpindah haluan. Jika aqidah ini hilang di hati atau pengarunya melemah, maka

usahanya akan terhenti atau bahkan surut ke belakang. Aqidah bukan sekedar pengakuan yang terucapkan, bukan juga

ilmu retorika yang digunakan untuk memperindah kata-kata.

Al-Qur’an mengingatkan dan menegaskan hakekat ini. Bahkan kitab yang mulia ini berulang-ulang menyebut perintah

beramal shalih yang dikaitkan dengan iman. Penyebutan ini terdapat di banyak tempat dan sulit dihitung. Seringnya hal

ini disebutkan merupakn isyarat nyata bahwa akidah harus mendampingi amal shalih, dan amal shalih harus menyertai

akidah

Aqidah mempunyai dampak kongkrit yang harus dimunculkan secara jelas sebagai bukti kebenaran pengakuan iman.

Jika tidak, itu hanya pengakuan tanpa indikasi yang membuktikan kebenaran atau kesungguhannya. Tidak sedikit ayat

dalam al-Qur’an maupum sunnah Rasulullah yang menyebutkan bahwa iman tidak terpisahkan dari amal.

Allah berfirman, ”Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bahwa bagi

mereka taman-taman surga yang dari bawah pepohonannya mengalir banyak anak sungai.” (Qs. Al-Baqarah: 25).

Dalam salah satu haditsnya Rasulullah bersabda, “Iman itu memiliki tujuh puluh atau enam puluh lebih cabang. Yang

paling utama adalah ucapan laa ilaaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Dan

malu adalah sebagian dari iman.” (HR. Abu Dawud, an-Nasaa’i).

Dengan demikian tidak setiap orang yang mengaku beriman dengan lidahnya itu benar pengakuannya. Iman

sesungguhnya mempunyai beberapa indikasi. Jika indikasi itu ada pada seseorang maka benarlah imannya, jika tidak

maka pengakuannya dusta. Bagi mereka yang ingin meyakinkan diri tentang kebenaran hal ini handaklah ia

memperhatikan dengan seksama perbedaan antara iman yang dibuktikan dengan amal dan sekedar pengakuan semata

tanpa bukti yang membenarkannya maka, hendaklah ia melihat lembaran sejarah.

Salah satu halaman sejarah masa lampau itu adalah generasi para shahabat. Generasi yang diselamatkan dengan
akidah Islam, diselamatkan dari noda syirik serta mencuci mereka dari berbagai roma kekafiran. Lalu akidah mereka
menanamkan hakekat iman dan menyinarkan cahaya tauhid dalam hati mereka.
Jadi akidah adalah satu-satunya faktor yang berpengaruh dalam pembinaan, pembentukan generasi tersebut. Sungguh
generasi ini telah mempesona kita agar berhenti sejenak membuka berbagai potret dan gambaran yang menunjukkan
dampak dan pengaruh akidah dalam tarbiyah mereka. Mari kita memilih lembaran-lembaran itu mana yang kita inginkan.
Apakah kita ingin berbicara tentang shahabat Muhajirin atau Anshar? Yang tua, muda, remaja atau tentang pria dan
wanita? Atau apakah kita ingin potret mereka saat susah dan senang?
Ketika membaca lembaran sejarah mereka yang gemilang maka kita akan melihat bahwa mereka adalah prajurit yang
berkuda di siang hari dan jika malam datang mereka adalah abid yang khusyu’ berdiri di atas sajadahnya. Jika kita
berbicara tentang pengorbanan nereka adalah para penderma sejati mulai dari harta sampai nyawa sekalipun mereka
korbankan demi tegaknya kalimat Allah ta’ala.
Maka dalam setiap potret itu, tanpa kecuali, akan tampak kebenaran iman. Darinya terpancar cahaya yang membuat
setiap orang terpesona dan bertanya-tanya, “Apa yang membuat mereka seperti ini. Padahal mereka sebelumnya adalah
ummat yang tidak diperhitungkan samasekali. Mereka tenggelam dalam kedunguan fanatisme suku, gemar perang,
mengubur anak perempuan hidup-hidup, tapi dalam waktu yang singkat mereka menjadi ummat yang disegani dan
diperhitungkan di dunia internasional?

Maka itulah lembaran masa lalu kita dan bandingkan semua itu dengan realita ummat kita hari ini. Ummat kita, hari ini,
tua dan mudanya tenggelam dalam kelalaian, persis seperti anak kecil yang disuruh menjaga rumah orang tuanya. Di
saat pencuri datang dengan mudah ia ditipu dengan mainan. Padahal yang memberinya mainan adalah pencuri yang
sebentar lagi akan menghabisi isi rumah.
Dan inilah kita, yang sudah dewasa dan mulai sadar bahwa kita telah ditipu oleh para pencuri. Isi rumah kita telah dijarah
dan tak satupun yang tersisa. Kita ingin mengembalikan apa yang pernah kita miliki berupa kejayaan dan kebesaran.
Maka inilah jalan kembali kita. Hendaklah kita bergegas dan memulai perbaikan ini seperti yang pernah lakukan oleh
salafus shaleh. Kita wajib kembali kepada pemahaman mereka tentang Islam lalu memegang teguhnya. Pengorbanan,
tekad, jihad, dan pengalaman generasi awal adalah modal utama dalam merintis proyek besar ini. Proyek tegaknya
kalimat Laa ilaaha illallah dan kembalinya izzul islam walmuslimin. Wallahu Ta’ala a’lam (Al Balagh)

Post a Comment

You must bee logged in to post a comment.